Rabu, 08 Januari 2020

Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

          Di lihat dari proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, menurut Ahmad Mansur terdapat 4 teori yaitu teori Gujarat, teori Arab, teori Persia, dan teori China. Keempat teori tersebut memberikan jawaban tentang permasalahan waktu masuknya Islam di Indonesia, asal Negara dan perilaku tentang membayar atau membawa agama Islam ke Indonesia.[1]

B. Teori Gujarat
         Sejumlah ahli mengajukan teori bahwa sumber Islam di kepulauan Indonesia adalah anak Benua India. Yang pertama adalah teori Gujarat yang diusung oleh Pijnappel, Snouck Hurgronje, dan Moquette. Argumen yang mereka gunakan adalah adanya kesamaan mazhab yang dianut masyarakat Cambay dengan masyarakat Indonesia. Di samping karena persamaan mazhab adalah adanya kesamaan batu nisan di Pasai dan di Gresik sama dengan yang ada di Cambay Gujarat.[2]
         Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam di Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke- 13 M. Gujarat ini terletak di India bagian barat, berdekatan dengan laut Arab. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah Pijnappel dari Universitas Leiden pada abad ke19. Menurutnya, orang-orang Arab yang bermazhab Syafi’i telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke-7 Masehi), namun yang menyebarkan Islam ke Indonesia, menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur, termasuk Indonesia.
         Teori ini kemudian direvisi oleh Snouck Hurgronje yang menyatakan bahwa setelah Islam memperoleh kokoh di kota-kota pelabuhan India Selatan, sejumlah Muslim Dhaka datang di Kepulauan Melayu sebagai penyebar Islam pertama. Berikutnya, Snouck Hugronje berteori bahwa mereka diikuti oleh orang-orang Arab, terutama yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw. Yang menyebarkan Islam, baik sebagai para ustad maupun sultan. Snouck Hugronje berpendapat bahwa abad ke- 12 merupakan waktu yang paling mungkin awal Islamisasi di Kepulauan Indonesia.[3]       
         Kemudian Moquette menguatkan teori Snouck Hugronje dan menyimpulkan bahwa asal-usul Islam di Nusantara adalah Gujarat di pesisir selatan India. Dia membuat kesimpulan setelah mempertimbangkan gaya batu nisan yang ditemukan di Pasai, Sumatra Utara, yang identik dengan batu nisan yang ditemukan di makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur. Dia menyatakan bahwa corak batu nisan yang ada di Pasai dan Gresik sama dengan yang ditemukan di Cambay Gujarat. Moquette menyimpulkan bahwa karena mengambil batu nisan dari Gujarat, orang-orang Indonesia juga mengambil Islam dari wilayah tersebut.

C. Teori Arab/Mekkah
         Teori ini adalah teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama yaitu teori Gujarat. Teori Arab berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abak ke-7 dan ke-8 dan pembawanya berasal dari Arab. Teori Arab ini diusung oleh Arnold, Crawfurd, dan Naquib Al-Attas.
         Menurut Arnold, para pedagang Arab juga membawa Islam ketika mereka menguasai perdagangan Barat-Timur semenjak awal abad ke-7 dan ke-8. Meskipun tidak ada catatan sejarah ihwal penyebaran Islam oleh mereka, patut diduga bahwa dalam satu hal atau lainnya mereka terlibat dalam penyebaran Islam kepada kaum pribumi. Arnold juga mengatakan bahwa sebuah sumber China menyebutkan bahwa menjelang perempat ketiga abad ke-7 ada seorang Arab yang menjadi pemimpin pemukiman Arab Muslim di pesisir  barat Sumatra. Mereka ini juga melakukan kawin campur dengan penduduk setempat, sehingga muncullah komunitas Muslim.[4]
         Crawfurd mengatakan bahwa Islam dikenalkan langsung dari Arab, meskipun demikian dia juga menegaskan bahwa hubungan bangsa Melayu-Indonesia dengan kaum muslim dari pesisir Timur India juga merupakan faktor penting. Niemann tidak menyebut tentang waktu masuknya Islam ke Nusantara, Sedangkan de Hollander mengatakan kemungkinan pada abad ke-13 M sudah ada orang arab di Jawa. Niemann dan de Hollander mengatakan bahwa Islam datang dari Hadramaut, karena adanya persamaan antara mazhab yang dianut oleh muslim Hadramaut dengan muslim Nusantara, yaitu mazhab syafi'i.    
         Teori yang menyebutkan bahwa Islam dibawa dari Tanah Arab mula-mula dikemukakan oleh Crawfurd (1820) yang menegaskan bahwa Islam dikenalkan secara langsung dari Tanah Arab ke Nusantara. Keyzer (1895) menganggap bahwa Islam di Nusantara berasal dari Mesir berdasarkan atas kesamaan mazhab yaitu mazhab Syafi’I yang dianut oleh kaum Muslim di kedua wilayah itu. Teori tentang mazhab ini juga dikemukakan oleh Niemann (1861) dan de Hollander (1861), tetapi mereka lebih menganggap Hadramaut sebagai tempat asal Islam Nusantara. Tokoh dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang mendukung teori ini diantaranya Hamka, A. Hasymi, dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas.

D. Teori Persia
         Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 M dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Pencetus teori ini adalah Hoesein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih menitikberatkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia seperti[5]:
         a. Peringatan10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam di Iran. Sedangkan di Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
         b. Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al – Hallaj.
         c. Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda- tanda bunyi Harakat.
         d. Adanya persamaan batu nisan yang ada di makam malik al-shahih (1297 M) di Pasai dengan makam malik Ibrahim (1419 M) di gresik yang dipesan dari Gujarat merupakan daerah yang mendapat pengaruh dari persia yang menganut faham syi'ah dan dari sinilah syiah dibawa ke Indonesia.

E. Teori China
         Teori China mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa) berasal dari para perantau China. Orang China telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindu-Buddha, etnis China atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia—terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di China pada abad ke-7 M, masa di mana agama ini baru berkembang.[6]
         Pada abad ke-9 M banyak orang muslim china di kanton dan wilayah China Sekatan lain yang mengungsi ke Jawa, sebagian ke Kedah dan Sumatra. Hal ini terjadi karena pada masa Huan Chou terjadi penumpasan terhadap penduduk Kanton dan wilayah China Selatan lainnya yang mayoritas penduduknya beragama islam. Mereka berusaha mengadakan revolusi politik terhadap keraton China pada ke 9 M.
         Pada abad-abad berikutnya peranan orang China semakin tampak dengan adanya bukti-bukti artefak, yakni adanya unsur-unsur China dalam arsitektur masjid-masjid Jawa kuno, seperti tampak pada atap masjid Banaten, mustaka, yang berbentuk bola dunia yang menyerupai setupa dengan dikelilingi tempat ular hampir selalu ada di masjid-masjid kuno di Jawa sebelum arsitektur timur tengah memasuki wilayah ini, motif hiasan di masjid sedang Duwur Paciran Lamongan dan lain-lain. Di samping adanya pengungsi China ke Jawa pada abad ke 9 M, pada abad ke 8-11 M sudah ada pemukimkan Arab muslim di China dan di Campa.          
         China mempunyai peranan yang besar dalam perkembangan Islam di Indonesia. Di samping bukti-bukti di atas, arsitektur masjid Demak dan juga berdasarkan beberapa catatan  sejarah beberapa sultan dan sunan yang berperan dalan penyiaran agama islam di Indonesia adalah keturunan China, misalnmya Raden Patah yang mempunyai nama China Jin Bun, dan lain-lain.[7]




                [1]Suryanegara, Ahmad Mansur, Meneruskan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1996), (Online: https://arisainus.wordpress.com/2016/10/29/makalah-teori-masuknya-islam-di-indonesia), diakses pada tanggal 26 April 2019
                [2]Apidudin, Penyebaran Islam di Daerah Galuh Sampai Dengan Abad ke-17, (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2010), hal 30
                [3]Ibid, hal 31
                [4]Ibid, hal 26
                [5]Online: https://arisainus.wordpress.com/2016/10/29/makalah-teori-masuknya-islam-di-indonesia/, diakses pada tanggal 26 April 2019
                [6]Online: http://nurdariarahmi.blogspot.com/, diakses pada tanggal 26 April 2019
                [7]Syaefudin, Machmud, Dinamika Peradaban Islam, (Yogyakarta: CV.Pustaka Ilmu Group, 2013), hal 43, (Online:https://www.kompasiana.com/sheonsa/5c76259b12ae9423c775e255/sejarah-masuknya-islam-ke-nusantara), diakses pada tanggal 26 April 2019 





Ditulis oleh Fahrizal Sukardi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar