Selasa, 07 Januari 2020

Pengembangan Pendidikan Karakter dalam Pendidikan SKI


  • Pengertian Nilai Karakter
Secara etimologis, kata karakter (Inggris: character) berasal dari bahasa Yunani (Greek), yaitu charassein yang berarti “to engrave”. Kata “to engrave” bisa diterjemahkan mengukir, melukis, memahatkan, atau menggoreskan.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata “karakter” diartikan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, dan watak. Karakter juga bisa berarti huruf, angka, ruang, simbul khusus yang dapat dimunculkan pada layar dengan papan ketik. Orang berkarakter berarti orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak.
Dengan makna seperti itu berarti karakter identik dengan kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri, karakteristik, atau sifat khas diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan bawaan sejak lahir. Seiring dengan pengertian ini, ada sekelompok orang yang berpendapat bahwa baik buruknya karakter manusia sudah menjadi bawaan dari lahir. Jika bawaannya baik, manusia itu akan berkarakter baik, dan sebaliknya jika bawaannya jelek, manusia itu akan berkarakter jelek. Jika pendapat ini benar, pendidikan karakter tidak ada gunanya, karena tidak akan mungkin merubah karakter orang yang sudah taken for granted. Sementara itu, sekelompok orang yang lain berpendapat berbeda, yakni bahwa karakter bisa dibentuk dan diupayakan sehingga pendidikan karakter menjadi bermakna untuk membawa manusia dapat berkarakter yang baik.
Secara terminologis, makna karakter dikemukakan Lickona, karakter mulia (good character) meliputi pengetahuan tentang kebaikan (moral khowing), lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan (moral feeling), dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan (moral behavior). Dengan kata lain, karakter mengacu kepada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitudes), dan motivasi (motivations), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills).
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seserang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa.
  • Pengertian Sejarah Kebudayaan Islam
Sejarah secara etimologi dapat ditelusuri dari asal kata Arab syajarah artinya pohon. Dalam bahasa asing lainya peristiwa sejarah disebut histore (perancis), geschicte (jerman) dan masih banyak lagi. Sejarah menurut istilah adalah suatu yang tersusun dari serangkain peristiwa masa lampau, keseluruhan pengalaman manusia dan sejarah sebagai suatu cara yang diubah-ubah, dijabarkan dan dianalisa. Sejarah memberikan pemahaman akan arti memiliki sifat objektif tentang masa lampau, dan hendaknya difahami sebagai suatu peristiwa itu sendiri. Adapun pemahaman lain bahwa sejarah menunjukkan makna yang subjektif, sebab maja lampau itu telah menjadi sebuah kisah atau cerita, yang mana didalam prose situ pengkisahan itu terdapat kesan yang dirasakan oleh sejarahwan berdasarkan pengalaman dan linkungan pergaulan yang menyatu dengan gagasan tentang peristiwa sejarah.
Sedangkan kebudayaan adalah penjelmaan (manifestasi) akal dan rasa manusia. Ini berarti bahwa manusialah yang menciptakan kebudayaan. Kebudayaan Islam, berarti menyaring kebudayaan yang tidak melenceng dariajaran Islam. Agar tetap berjalan antara kebudayaan dengan ajaran agama maka harus pula dipelajari tentang pengertian kebudayaan dan Islam itu sendiri.
Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) merupakan suatu pelajaran yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/peradaban Islam dan para tokoh yang berprestasi dalam sejarah Islam dimasa lampau, mulai dari sejarah masyarakat Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan nabi Muhammad saw. sampai masa khulafaurrasyidin. Secara substansial mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati Sejarah Kebudayaan Islam, yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik.
  • Nilai karakter dalam Materi Sejarah Kebudayaan Islam
Pendidikan agama Islam (PAI) di Madrasah yang terdiri dari empat mata pelajaran tersebut memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Al-Qur’an-Hadits, menekankan pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Aspek aqidah menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan/keimanan yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai al-asma’ al-husna. Aspek Akhlak menekankan pada pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Aspek Fiqh menekankan pada kemampuan cara melaksanakan ibadah dan muamalah yang benar dan baik. Sedangkan aspek Tarikh & kebudayaan Islam menekankan pada kemampuan mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, ipteks dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/peradaban Islam dan para tokoh yang berprestasi dalam sejarah Islam di masa lampau, mulai dari sejarah masyarakat Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, sampai masa Khulafaurrasyidin. Secara substansial mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati Sejarah Kebudayaan Islam, yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik.
Pembelajaran SKI di Madrasah sebagai bagian yang integral dari Pendidikan Agama. Memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan watak dan kepribadian anak. Tetapi secara substansial mata pelajaran SKI memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada anak untuk mempraktekkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Hubungan antara pendidikan karakter dengan sejarah kebudayaan Islam dapat dilihat dalam dua sisi, yakni materi dan proses pembelajaran. Dari segi materi sejarah kebudayaan Islam dapat tercakup nilai karakter.
Pengembangan pendidikan karakter dalam Pembelajaran SKI yaitu dengan menceritakan kembali kisah-kisah yang terjadi dizaman dulu, banyak nilai-nilai yang bias kita petik didalamnya.
Mata pelajaran SKI Madrasah tidak hanya berisi kompetensi kognitif semata, tetapi lebih dari itu yang sangat mendasar adalah terletak pada kemampuan menggali nilai, makna, aksioma, ibrah/hikmah, dalil dan teori dari fakta sejarah yang ada. Kata Ibrah berarti pelajaran. Artinya ketika siswa mempelajari materi pembelajaran, ia akan mendapatkan pelajaran berharga dari materi tersebut. Rumusan ini terinspirasi dari firman Allah Wafii qashashihim Ibratun liulilabshar” dan didalam kisah-kisah mereka ada Ibrah bagi orang-orang yang berfikir. Ibrah bisa bermakna positif dan negatif. Makna positif maksudnya setelah mempelajari materi pelajaran siswa menemukan pelajaran baik untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan seharihari. Namun umumnya, Ibrah merujuk kepada peristiwa-pristiwa negatif yang terjadi pada masa lalu sehingga pembaca sejarah dapt mengambil pelajaran untuk tidak mengulang kembali atas kejadian yang negatif tersebut. Sebagai contoh sejarah Qarun, Fir’aun (Hanafi: 2003) yang negatif agar pembaca dapat mencari pelajaran untuk tidak meniru perilaku mereka.

Soal Essay:  
1. Apa manfaat belajar SKI?
Jawab: Manfaat belajar SKI sangatlah banyak, meliputi aspek Agama, social dan kebudayaan. Dimana masing-masing dari tiga aspek tersebut hidup berdam;pingan dengan kita. Dan setelah mempelajarai SKI, kita dapat mengetahui cara yang baik untuk menyikapi atau mengamalkan tiga hal tersebut.

2. Seperti yang kita tau bersama bahwa dalam pembelajaran SKI memuat tentang sejarah yang salah satunya tentang materi perang. Nah hal apa yang bias kita ambil dalam materi itu? Kan zaman sekarang sudah tidak ada perang lagi.
Jawab: Dalam materi tentang peperangan (contoh perang Badar) hal yang dapat kita ambil hikmahnya yaitu : agar kita mengindahkan niat kita, mengutamakan Allah Insyaa Allah dimudahkan urusannya, jangan merasa cukup dengan amal yang kita lakukan meskipun banyak, setia kepada ajaran Nabi Muhammad SAW.

3. Nilai karakter apa yang bisa kita pelajari dalam Pembelajaran SKI ?
Jawab: Nilai-nilai karakter yang dapat kita ambil dalam pembelajaran SKI yaitu nilai Religius, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah Air, cinta damai, tanggung jawab, peduli social dll.

4. Sebutkan pentingnya SKI bagi Mahasiswa!
Jawab: Sejarah Kebudayaan Islam sangat penting bagi kita umat Islam terkhusus bagi para pelajar yang memiliki intelektual, sebab dapat meningkatkan apresiasi terhadap perkembangan Islam atau mendukung orang-orang yang belum mengetahuinya agar dapat mengambil ibrah atau hikmah dan mengamalkannya bersam-sama. Dan diharapkan juga kita bias sama-sama menuju jalan yang benar.

5. Dalam sejarah ada materi tentang peperangan. Zaman sekarang sudah tidak ada lagi perang, apakah masih perlu materi tentang perang dibelajarkan pada peserta didik?
Jawab: Menurut saya masih perlu, karena dengan sejarah tentang peperaangan ini kita tau bahwa dulu banyak yang membela Agama Islam, karena ini tercatat sebagai sejarah. Memang benar zaman sekarang sudah tidak ada lagi perang, akan tetapi banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari materi perang tersebut contohnya rasa kecintaan kita kepada Rasulullah, rasa peduli terhadap sesama, nilain keberanian, tolong menolong dll.


Ditulis oleh Fridawiyarti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar