1. Materi Ilmu Kalam
A. Pengertian Ilmu Kalam
Ilmu kalam adalah ilmu yang membicarakan sifat-sifat Allah, sifat-sifat
jaiz Allah dan dzat Allah. Ilmu kalam biasa disebut dengan beberapa nama,
antara lain ushuluddin (akal, landasan yang membahas tentang pokok-pokok
agama), ilmu tauhid (keesaan Allah), aqaid (akidah), fiqh al akbar dan teologi Islam.
Latar belakang munculnya ilmu kalam terdapat dalam dua faktor yaitu faktor
eksternal dan internal. Dalam faktor internal disebabkan adanya masalah
politik, sedangkan faktor eksternal yaitu:
Ø Orang-orang musyrik yang mempertanyakan
tentang ketuhanan.
Ø Orang-orang majusi, nasrani mengingat kembali
ajaran lalu dan mencampuradukkan
pemahaman.
B. Hubungan Ilmu Kalam Dengan Ilmu Lainnya Serta
Perbedaannya.
Hubungan ilmu kalam dengan filsafat dan tasawuf yaitu
baik ilmu kalam, filsafat
maupun tasawuf bertujuan sekurang-kurangnya berurusan dengan hasil yang sama,
yaitu kebenaran. Ilmu kalam dengan
metodenya mencari kebenaran tentang Tuhan dan yang berkaitan dengan-Nya.
Filsafat dengan wataknya menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun
tentang manusia (yang belum atau tidak dapat dijangkau ilmu pengetahuan karena
diluar atau diatas jangkauannya) atau tentang Tuhan. Sementara itu, ilmu
tasawuf juga dengan metodenya yang tipikal berusaha menghampiri kebenaran
berkaitan dengan perjalanan spiritual menuju Tuhan.
Perbedaan diantara
ketiga ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai
ilmu yang menggunakan logika disamping argumentasi-argumentasi naqliah untuk
mempertahankan keyakinan ajaran agama, sangat tampak nilai-nilai apologinya.
Ilmu kalam pada dasarnya menggunakan metode dialektika (jadaliah) dikenal juga
dengan dialog keagamaan. Sebagai sebuah keagamaan, ilmu kalam berisi keyakinan-keyakinan
kebenaran agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen rasional. Sebagian
ilmuwan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran, praktik
dan pelaksanaan ajaran agama serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan
dengan pendekatan rasional.
C. Aliran-Aliran Ilmu Kalam
Sejak
wafatnya nabi Muhammad saw, kaum muslimin sudah mulai menghadapi perpecahan.
Pada masa kepemimpinan Abu Bakar, ia memerangi nabi palsu seperti Musailamah al
Kadzab, juga memerangi orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat. Aliran ilmu
kalam muncul pada zaman sahabat, tepatnya pada masa Utsman bin Affan dan
memuncaknya pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Mulanya, pada
kepemimpinan Utsman bin Affan, ia mengangkat pejabat-pejabat atau
menteri-menteri dari keluarganya atau yang biasa disebut dengan nepotisme. Nah,
setelah khalifah Utsman meninggal dunia, Ali bin Abi Thalib mengganti
kepemimpinannya, dengan salah satu aturan mengganti pejabat-pejabat yang kurang
kompeten dibidangnya yang mereka itu termasuk keluarga dari Utsman bin Affan
tersebut. Dari sinilah muncul pemberontakan-pemberontakan kepada Ali. Mulai
dari pemberontakan Aisyah kepada Ali yang disebabkan Ali disibukkan dengan
kematian Rasulullah karena mengurus jenazah beliau, dan pada saat bersamaan terjadi
pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah dan Ali tidak sempat membaiat Abu Bakar
yang adalah ayah dari Aisyah atau mertua dari Rasulullah. Alasan lain Aisyah
melakukan pemberontakan kepada Ali dikarenakan Aisyah ingin menuntut balas
kematian Utsman karena Ali tidak mengusut sampai kedalam tentang pembunuhan
kepada Utsman bin Affan. Dari alasan-alasan ini terjadilah perang antara Aisyah
kepada Ali bin Abi Thalib, dimana Aisyah dibantu Thalhah bin Abdullah dan
Zubair bin Awam. Perang ini dikeal dengan nama perang Jamal, dikarenakan pada
saat perang Aisyah menunggangi unta. Perang ini berakhir dengan kekalahan dari
kubu Aisyah, dan Aisyah dipulangkan ke Madinah.
Pemberontakan
lain adalah pemberontakan Muawiyah bin Abu Sofyan kepada Ali bin Abi Thalib.
Kubu Muawiyah didampingi oleh Amr bin Ash dan kubu Ali didampingi Abu Musa
al-Asyari. Perang ini dinamakan perang Shiffin. Tetapi perang ini diakhiri
dengan tawaran tahkim (arbitrase) yang merupakan taktik dari Muawiyah yang
mengakibatkan beberapa golongan dari kaum Ali tidak menyetujui tawaran tersebut
dan mengakibatkan golongan tersebut keluar dari barisan Ali, yang disebut
dengan khawarij. Tahkim atau arbitrase ini adalah cara untuk berdamai dengan
cara al-Quran diangkat diujung tombak. Dari sinilah terjadi tiga golongan yaitu
golongan Muawiyah, golongan dari barisan Ali yang disebut dengan Syiah atau
pengikut setia Ali, dan terakhir golongan yang keluar dari barisan Ali disebut
Khawarij.
1. Aliran Khawarij
Khawarij
berasal dari kata kharaja yang berarti keluar. Keluar dari barisan Ali.
Khawarij semulanya adalah pendukung dari Ali bin Abi Thalib yang kemudian
keluar dikarenakan tidak setuju dengan pendapat Ali karena menerima tahkim
(arbitrase) dengan Muawiyah bin Abu Sofyan. Orang-orang khawarij berasal dari
Arab Badui atau arab-arab pedalaman. Kaum khawarij mengambil dalil pada QS.
An-Nisa ayat 100.
Pokok
pikiran mereka diantaranya:
-
Orang Islam yang melakukan dosa besar adalah termasuk Kafir;
-
Orang
yang terlibat dalam perang jamal yakni perang antara Ali dan Aisyah dan pelaku
arbitrase antara Ali dan Mua’awiyyah dihukum kafir, dan
-
Khalifah
menurut mereka tidak harus keturunan Nabi dan suku quraisy
Sekte dari aliran khawarij terbagi dua, yaitu sekte
moderat adalah al-ibadiyah, dan sekte ekstrem adalah al-azariqoh.
2. Aliran Murjiah
Kata Murjiah berasal dari kata irja, arjaa yang
berarti penangguhan, penundaan, pengharapan. Murjiah terbagi atas dua yaitu
murjiah moderat dan murjiah ekstrem. Menurut Murjiah moderat hukuman bagi
pelaku dosa besar adalah memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk
memperoleh ampunan dan rahmat Allah swt.
Murjiah ekstrem menurut paham Jahmiyah diambil dari nama
salah satu tokoh Murjiah yaitu Jahm bin Safwan, seorang muslim yang berpaling
dari keimanan atau menyatakan kekufuran tetap muslim karena menurut mereka iman
didalam hati dan amal tidak dipedulikan. Menurut Murjiah paham Sahiliyah, iman
hanya mengetahui Tuhan. Semua ibadah seperti shalat, zakat hanya lambang
ketaatan.
Pada masa bani Umayyah terjadi penurunan moralitas.
Banyak orang yang meminum khamr, terjadi zina dan lain-lain itu tidak mengapa
yang penting masih punya iman.
3. Aliran Jabariyah
Jabariyah berasal dari kata jabbara yang berarti memaksa. Manusia tidak punya
kekuasaan apapun untuk mewujudkan suatu perbuatan Tokoh dari aliran jabariyah
adalah Jaad bin Dirham dan Jahm bin Safwan yang termasuk dalam aliran jabariyah
ekstrem. Dalam aliran jabariyah moderat yang tokohnya An-Nazariyat dan Ad-Dirar
mengatakan bahwa Allah menciptakan perbuatan tapi manusia memiliki andil atau
manusia yang mewujudkan perbuatannya.
Pokok-pokok ajaran aliran jabariyah atau
doktrin-doktrinnya:
-
Manusia tidak memiliki kuasa apa-apa
-
Allah tidak memiliki sifat
-
Al-Quran adalah makhluk
-
Allah tidak bisa dilihat di akhirat
-
Iman diletakkan dihati (sama dengan murjiah)
-
Surga dan neraka tidak kekal, hanya Allah yang kekal
-
Iman marifat
Jabariyah sama dengan murjiah dalam masalah
amal. Mereka sama-sama menomorduakan amal atau melemahkan amal.
4. Aliran Qadariyah
Qadariyah berasal dari kata qaddara yang berarti
kemampuan, kuasa, bebas, kekuatan. Tokohnya adalah Ma’bad a-Jauhani dan Ghilan
ad-Dimasyqi. Qadariyah menamakan dirinya “Ahlul Adil wa at-Tauhid” karena
mengakui keadilan dan keesaan. Pokok-pokok ajarannya adalah:
-
Nafi as-Sifat
-
Al-Quran adalah makhluk
-
Surga, neraka tidak kekal
-
Allah tidak dapat dilihat di akhirat
5. Aliran Muktazilah
Muktazilah berasal dari kata i’tizal yang berarti
berpisah, menjauh, memisahkan diri. Aliran muktazilah lahir di Basrah, Irak.
Aliran muktazilah menggunakan rasio atau menurut pemahaman manusia. Pelaku dosa
besar menurut khawarij adalah kafir, menurut murjiah tetap mukmin, sedangkan
menurut muktazilah netral. Tokoh-tokoh aliran muktazilah dalam beberapa
tingkatan, yaitu:
I =>
Washil bin Atha, Abu Amr bin Ubaid
II => Abu
Huzail al-Allaf, Ibrahim an-Nazim
III =>
Al-Jubai, Abu Hasyim
Washil bin Atha merupakan guru dari Hasan al-Bashri dalam
halaqah.
Ajaran dari muktazilah:
1) Tauhid:
a. Nafi as-Sifat (meniadakan sifat Allah)
b. Al-Quran adalah makhluk
c. Allah tidak dapat dilihat di akhirat
2) Al-Adl (adil)
3) As-Shalah wa al-Ashlah (baik dan terbaik)
Jika Allah zalim, berarti sama dengan manusia
4) Al Wad wa al Waid (janji dan ancaman)
Tidak menerima adanya syafaat karena bertentangan dengan ajaran tersebut.
5) Al Manzilah bain al Manzilatain (diantara dua
posisi)
Tidak kafir, tidak mukmin. Menurutnya, sedekah adalah jalan tengah dari
kikir dan boros
6) Amar Maruf Nahi Munkar
Disini terjadi peristiwa mihnah (pembunuhan). Mereka memaksa untuk menerima
al-Quran sebagai makhluk. Bahkan Ahmad bin Hambal dipenjara karea tidak mau
melakukan ajaran mereka. Disini juga merupakan awal kehancuran dari muktazilah.
6. Aliran Asyariyah
Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang-orang yang mengikuti
sunnah nabi. Tokohnya adalah Abu Hasan al-Asyari yang merupakan anak tiri dari
al-Jubai dan dia mengikuti muktazilah sampai berusia 40 tahun. Penyebab ia
keluar dari aliran muktazilah adalah ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah.
Penyebab lain karena selalu berdebat atau tidak sepaham dengan muktazilah, juga
karena aliran muktazilah adalah aliran yang sulit/susah dipahami, serta aliran
muktazilah tidak memperhatikan sunnah nabi dan fokus ke akal. Sehingganya
Asyari ingin menyelamatka sunnah-sunnah nabi saw. Asyari melempar jubahnya
sebagai tanda ia benar-benar telah keluar dari aliran muktazilah.
Ajaran-ajarannya:
-
Allah memiliki sifat (Baasirun, saami’un, ‘aalimun)
-
Al-Quran adalah kalamullah
-
Allah bisa dilihat di akhirat
-
Allah memiliki kuasa yang mutlak
-
Perbuatan manusia diciptakan oleh Allah
Manusia memiliki kasb (usaha) tetapi tidak efektif
-
Menolak konsep
adil, as-Shalah wa al-Ashlah, al Wad al Waid muktazilah
-
Menolak al Manzilah bain al Manzilatain
Masih tetap beriman, tapi berdosa
-
Antrophormisme
7. Aliran Salaf
Salaf artinya terdahulu, atau aliran pemurnian. Aliran
salaf dinisbahkan kepada tiga generasi yaitu, sahabat, tabiin, tabi’ tabiin.
Tokohnya Ahmad bin Hambal, Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab (seorang
tokoh pembaharu pada abad ke 18 awal 19). Konsep tauhidnya yaitu:
-
Terbebas dari khurafat, syirik, bidah, takhayul
-
Aliran pemurnian
-
Mengembalikan ajaran seperti orang-orang terdahulu
-
Akal tidak dijadikan sebagai hakim
8. Aliran Maturidiyah
Maturidiyah adalah aliran kalam yang berpegang pada akal
pemikiran tetapi tidak bertentangan dengan syara’. Maturidiyah adalah aliran
teologi Islam yang bercorak rasional. Kedudukan akal dan wahyu yaitu akal
menjelaskan teks, ilmu pengetahuan, dan wahyu menjelaskan akal dan tidak
menentang akal. Maturidiyah terbagi dua yaitu maturidiyah samarkand dengan
tokohnya Abu Mansur al-Maturidi dan maturidiyah bukhara tokohnya adalah Abu
Yusr al Bazdawi.
Dalam sifat Allah, maturidiyah sependapat dengan
asyariyah yaitu Allah memiliki sifat, al-Quran adalah kalam. Sedangkan mengenai
perbuatan manusia, maturidiyah sependapat dengan muktazilah; al Wad al Waid
yaitu diwujudkan dengan manusia itu sendiri. Tetapi menolak as Shalah wa al
Ashlah.
Soal Jawab Ilmu Kalam
1. Soal: Aliran apa saja yang termasuk dalam golongan
ahlus sunnah wal jamaah? Dan berikan alasannya?
Jawab: - Aliran Asy’ariyah, karena aliran ini aliran yang
memperhatikan dan menghidupkan kembali
sunnah-sunnah nabi Muhammad saw.
-
Aliran Salafi, karena konsep ajarannya terpaku pada tiga
generasi yaitu masa sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in dan terbebas dari
khurafat, bidah, syirik, takhayul.
-
Aliran Maturidiyah, karena ada beberapa ajarannya yang
sama dengan asy’ariyah.
2. Soal: Apa saja yang dibahas dalam ilmu kalam!
Jawab: Pembahasannya tentang fungsi akal dan wahyu, perbuatan manusia dan tuhan,
keadilan tuhan, konsep iman, sifat tuhan.
3. Soal: Jelaskan dalil QS an-Nisa ayat 100 sebagai
pegangan kuat bagi aliran khawarij!
Jawab: Kaum
khawarij menganggap bahwa nama kharaja yang terdapat dalam QS.
An-Nisa ayat 100 merujuk pada seseorang yang keluar dari rumahnya, untuk hijrah
di jalan Allah dan Rasulnya.
4.
Soal: Jelaskan apa yang dimaksud dengan tahkim antara
Muawiyah bin Abu Sofyan dengan Ali bin Abi Thalib!
Jawab: Tahkim atau arbitrase adalah usaha perantara
dalam meleraikan masalah. Perantara disini adalah al-Quran. Jadi tahkim adalah
cara untuk berdamai dengan cara al-Quran diangkat diujung tombak.
5.
Soal: Apa yang dimaksud dengan Ahlu Sunnah wal
Jamaah!
Jawab: Ahlu Sunnah wal Jamaah yaitu aliran teologi
gabungan antara pemikiran teologi Maturidiyah dengan Asy’ariyah. Kedua aliran
ini berkolaborasi dalam menyatakan pandangannya, antara lain: bahwa tuhan itu
bersifat, Tuhan dapat dilihat di akhirat, al-Quran adalah kalam.
6.
Soal: Mengapa aliran muktazilah tidak menerima adanya
syafaat?
Jawab: Karena dalam ajarannya berisi tentang Al Wad wa
Al Waid atau janji dan ancaman. Menurut mereka, Allah telah memberi janji
berupa memberi pahala dan surga bagi muslimin yang baik dan bagi muslimin yang
jahat, tentu Allah memberi ancaman berupa siksa. Apapun yang mereka lakukan
langsung mendapat balasan. Jika mereka meyakini adanya syafaat atau
pertolongan, tentu ini bertentangan dengan ajaran mereka tersebut, sehingganya
mereka tidak meyakini adanya syafaat.
Tema : Blog Pembelajaran PAI
Tujuan : Sebagai media untuk memperoleh materi selain dari buku, untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan referensi bacaan.
Sasaran : Mahasiswa/i Perkuliahan Jurusan PAI
Oleh/Nama : Fizrawati Is. Ibrahim
NIM : 171012010
Kelas : PAI 5 A (Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, IAIN Sultan Amai Gorontalo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar