Selasa, 07 Januari 2020

Akhlak, Etika dan Moral ( Akhlak Tasawuf)



A. Pengertian Akhlak

Kata akhlah berasal dari bahasa Arab khuluq yang jamaknya akhlaq. Menurut bahasa akhlak adalah perangai, tabiat, dan agama. Dinamakan khuluq karena etika bagaikan khalqah (karakter) pada dirinya. Dengan demikian khuluq adalah etika yang menjadi pilihan dan diusahakan seseorang. Adapun etika yang sudah menjadi tabiat bawaannya dinamakan al-khaym.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi perkerti, watak, dan tabiat.
Berkaitan dengan pengertian khuluq yang berarti agama, Al-Fairuzzabadi berkata, “ketahuilah, agama pada dasarnya adalah akhlak. Barang siapa memiliki akhlak mulia, kualitas agamanya pun mulia. Agama diletakkan di atas landasan akhlak utama, yaitu kesabaran, memelihara diri, keberanian, dan keadilan.”

Secara sempit, pengertian akhlak dapat diartikan dengan:
1.Kumpulan kaidah untuk menempuh jalan yang baik
2.Jalan yang sesuai untuk menuju akhlak
3.Pandangan akal tantang kebaikan dan keburukan.

Pengertian akhlak menurut istilah, Menurut imam Al-Ghozali “akhlak adalah daya kekuatan (sifat) yang tertanam dalam jiwa yang mendorong perbuatan-perbuatan yag spontan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran.
Jadi, akhlak merupakan sikap yang melekat pada diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku dan perbuatan.

B. Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa yunani “ethos” yang berarti kebiasaan (perbiatan).netika adalah teori tentang perbuatan manusia dilihat dari baik dan buruknya. Etika memurut filsafat adalah ilmu yang menyelidiki perbuatan baik dan perbuataan buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh dapat diketahui oleh akal pikiran.

C. Pengertian Moral
Moral berasal dari bahasa latin mores. Kata Jama’ dari mos yang berarti adat kebiasaan. Menurut istilah moral adalah sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia. Yang baik dan wajar, sesuai dengan ukuran tindakan yang oleh umum diterima, meliputi kesatuan social atau lingkungan tertentu.

D.  Pengertian Tasawuf
1.Pengertian Tasawuf  Secara lughawi
Secara lughawi pengertian tasawuf dapat dilihat menjadi beberapa macam pengertian, seperti di bawah ini.
Pertama tasawuf berasal dari kata ahlu suffah ا هل ا لصفة yang berarti sekelompk orang pada masa Rasulullah SAW, yang hidupnya berdiam di serambi-serambi masjid, mereka mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah SWT.
Kedua tasawuf berasal dari kata shafa ( صفا ء) berarti “bersih” atau “suci” maksudnya adalah orang-orang yang menyucikan dirinya di hadapan Tuhan-Nya.
Ketiga tasawuf berasal dari kata shaf ( صف)artinya orang-orang yang ketika shalat selalu berada di saf paling depan.
Keempat, istilah tasawuf dinisbahkan kepada orang-orang dari bani Shufah.
Kelima, tasawuf berasal dari kata saufi (سو فئ ) yang berarti kebijaksanaan.
Keenam, tasawuf berasal dari kata shaufanah yaitu sebangsa buah-buahan kecil yang berbulu dan banyak yang tumbuh di padang pasir di tanah arab.
Ketujuh, tasawuf berasal dari kata shuf ( صو ف) yang berarti bulu domba atau wol.

2.Pengertian tasawuf secara istilah
Pengertian tasawuf secara istilah adalah ilmu yang mengajarkan kepada manusia untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah.pada bingkai global, urgensi tasawuf yang disajikan bagi kalangan intelektual muda, seperti para mahasiswa, adalah upaya positif untuk sadar dan mengenal pada eksistensi dirinya, sehingga ia akan sampai pada eksistensi Tuhannya. Konsep pendidikan tasawuf yang terkenal adalah : “ barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”.

Menurut Muhammad Ali Al-Qossab, tasawuf adalah akhlak yang mulia, yang timbul pada masa yang mulia dari seorang yang mulia ditengah-tengah kaum yang mulia.
Menurut Al-Junaid ai-Baghdadi mendefinisikan tasawuf sebagai berikut: “hendaknya kita berhubungan dengan al-Haqq tanpa perantara (wasilah)” dan dikitab lain dia juga mendefinisikan tasawuf adalah “hendaknya hidup dan matimu diserahkan kepada al-Haqq”.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ilmu tasawuf adalah ilmu yang mempelajari usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan ma’rifat menuju keabadian, saling mengingatkan antar manusia, serta berpegang teguh pada janji Allah SWT dan mengikuti syari’at Rosulullah SAW dalam mendekatkan diri dan mencapai keridhoan-Nya.

E. Dasar-Dasar  Tasawuf Dalam Al-Qur’an dan Hadis
Kajian tentang tasawuf semakin banyak diminti orang. Sebagai bukti, misalnya, semakin banyaknya buku yang membahas tasawuf yang banyak kita temui telah mengisi berbagai perpustakan terutama di Negara-negara yang berpenduduk muslim, juga Negara-negara barat sekalipun yang mayoritas masyarakatnya adalah nonmuslim.
Tingkat ketertarikan mereka tidak dapat diklaim sebagai sebuah penerimaan bulat-bulat terhadap tasawuf. Ketertarikan mereka terhadap tasawuf dapat dilihat pada dua kecenderungan, yaitu pertama karena kecenderungan terhadap kebutuhan fitrah atau naluriah;
Kedua, karena kecenderungan pada persoalan akademis. Kecenderungan pertaman mengisyaratkan bahwa manusia membutuhkan sentuhan-sentuhan spiritual atau rohani. Kecenderungan kedua mengisyaratkan bahwa kajian tasawuf menarik untuk dikaji secara akademis-keilmuan.

Untuk melihat dasar-dasar tentang tasawuf, dalam kajian ini penulis akan mengetahkan landasan-landasan naqli dari tasawuf. Landasan naqli yang kami maksudkan adalah landasan Al-Qur’an dan Al-Hadis. Kami memandang perlu menyajikan kedua landasan ini karena Al-Qur’an dan Al-Hadis merupakan kerangka acuan pokok yang selalu dipegang umat islam.
1.Landasan Al-Qur’an
Tasawuf pada awal pembentukannya adalah akhlak atau keagamaan, dan moral keagamaan ini banyak diatur dalm Al-Quran dan As-Sunnah. Jelaslah bahwa sumber pertamanya adalah ajaran-ajaran islam. Sebab tasawuf ditimba dari Al-Quran dan As-Sunnah, dan amalan-amalan serta ucapan para sahabat. Amalan serta ucapan para sahabat itu tentu saja tidak keluar dari ruang lingkup Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan begitu, justru dua sumber utama tasawuf adalah Al-Quran dan As-Sunnah.

Al-Quran merupakan kitab Allah SWT. Yang di dalamnya terkandung muatan-muatan ajaran Islam, baik akidah , syariah, maupun muamalah .ketiga muatan tersebut banyak tercermin dalam ayat-ayat yang termaktub dalam Al-Quran. Ayat-ayat Al-Quran itu, di satu sisi memang perlu dipahami secara tektual-lahiriah, tetapi di sisi lain, ada juga yang perlu dipahami secara kontektual-rohaniah. Sebab jika dipahami hanya secara lahiriah, ayat-ayat Al-Quran akan terasa kaku, kurang dinamis, dan tidak mustahil akan ditemukan persoalan yang tidak dapat diterima secara psikis.
Secara umum. Ajaran islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pemahaman terhadap unsur kehidupan yang bersifat batiniah pada gilirannya melahirkan tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yangcukup besar dari sumber ajaran Islam. Ak-Quran dam As-Sunnah, serta praktik kehidupan Nabi Muhammmad SAW dan para sahabatnya. 

2.Landasan Hadits
Dalam hadis Rasulullah SAW banyak dijumpai keterangan yang berbicara tentang kehidupan rohaniah manusia. Berikut ini beberapa matan hadis yang dapat dipahami dengan pendekatan tasawuf.
Artinya “barang siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya”
Hadis ini di samping melukiskan kedekatan hubungan antara Tuhan dan manusia, sekalipun mengisyaratkan arti bahwa manusia dan Tuhan adalah satu. Jadi barang siapa yang ingin mengenal Tuhan cukup mengenal dan merenungkan perihal dirinya sendiri.
Dasar-dasar tasawuf baik Al-Quran , Al-Hadis, maupun teladan dari para sahabat, ternyata merupakan benih-benih tasawuf dalam kedudukannya sebagai ilmu tentang tingkatan (maqomat) dan keadaan ( ahwal). Dengan kata lain, ilmu tentang moral dan tingkah laku manusia terdapat rujukannya dalam Al-Qura, bahwa pertumbuhan pertamanya, tasawuf  ternyata ditimba dari sumber Al-Quran.

F. Pembagian Akhlak Dalam Islam
Ada 2 pembagian akhlak yaitu akhlak mahmudah dan akhlak madzmumah. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1. Akhlak Mahmudah
Yakni akhlak terpuji atau akhlak yang baik. Contohnya: pemaaf, sabar, ikhlas, menepati janji, qonaah, jujur, penyayang, pemurah, baik hati, husnudzon dan lain sebagainya. Dimana akhlak mahmudah ini semuanya membawa kebaikan dan tidak merugikan orang lain.
Karena setiap akhlak terpuji ini telah ada tuntunan dan ajarannya baik dalam Al-Qur’an ataupun Hadits nabi. Dari Imam Malik berkata “setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak islam ialah malu”. Malu merupakan dasar akhlak manusia, karena dengan memiliki rasa malu pada Allah SWT maka akan takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan keji.

2. Akhlak Madzmumah
Yakni akhlak tercela atau perbuatan yang buruk. Contohnya:
Riya’: Beramal atau melakukan suatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapat pujian orang, dengan kata lain riya’ sama artinya dengan pamer.
Sum’ah:  Melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.
Ujub: Mengagumi diri sendiri
Takabur: Membanggakan diri sendiri karena merasa dirinya jauh lebih hebat dibandingkan orang lain.
Tamak: Serakah atau rakus terhadap apa yang ingin dimiliki.
Malas: Enggan melakukan sesuatu.
Fitnah: Mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya. Memfitnah merupakan salah satu dosa yang sangat dilarang oleh agama karena fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
Bakhil: pelit, medit dan tidak suka membagi atau memberikan sesuatu yang dimiliki pada orang lain.

G. Tujuan dan Manfaat Akhlak Tasawuf

Pada dasarnya, tujuan pokok akhlak adalah agar setiap muslim berbudi pekerti, bertingkah laku, berperangai atau beradat-istiadat yang baik sesuai dengan ajaran islam. Ibadah-ibadah inti dalam islam juga memiliki tujuan pembinaan akhlak mulia. Misalnya, shalat bertujuan mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela; zakat disamping bertujuan menyucikan harta juga bertujuan menyucikan diri dengan memupuk kepribadian mulia cara membantu sesama; puasa bertujuan mendidik diri untuk menahan diri dari berbagai syahwat. Dengan demikian, tujuan secara umum adalah membentuk kepribadian seorang muslim yang memiliki akhlak mulia, baik secara lahiriyah maupun batiniah.


Soal & Jawab

1. Kemukakan definisi akhlak secara bahasa dan istilah?
Jawab : Akhlak menurut bahasa adalah sifat , tabiat, budi pekerti atau perangai seseorang yang melekat pada diri seseorang ini.
            Sedangkan secara istilah akhlak artinya adalah  sifat seseorang yang melekat dalam dirinya yang kemudian dapat terlihat dari perilaku orang tersebut. maka bila akhlaknya baik perilakunya akan baik, dan bila akhlaknya buruk maka perliakunya akan buruk. 

2.  Apa perbedaan antara akhlak, etika, dan moral?
Jawab : Perbedaan antara akhlak, etika, dan moral itu terletak pada tolak ukurnya;
-          Akhlak tolak ukurnya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah
-          Etika tolak ukurnya adalah pikiran/akal
-          Moral tolak ukurnya adalah norma yang hidup dalam rmasyarakat
            Implikasinya adalah ketika seseorang mengatakan perihal akhlak maka yang menjadi pertimbangan mana yang baik dan mana yang buruk, sumbernya adalah Al-Qur’an dan sunnah.
Ketika seseorang mengatakan atau menyebutkan perihal etika maka yang menjadi standar apakah hal itu baik dan buruk adalah akal/pikirannya. Kemudian ketika seseorang berbicara tentang moralitas manusia, maka yang menjadi dasar adalah suatu tatanan norma yang hidup dalam masyarakat sekitarnya.

3. Sebutkan beberapa landasan akhlak?
Jawab : Landasan Akhlak dalam Islam adalah bersifat religius yaitu Al-qur’an dan Hadits. ada beberapa bagian dari landasan-landasan yang ada didalam Hadits dan Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:
  •   Akhlak merupakan salah satu tujuan diutusnya Rasulullah. Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhori dan Malik).
  •  Akhlak yang bagus sebagai standar atau berpengaruh untuk kesempurnaan  iman seseorang. Sesempurna-sempurna iman seseorang di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud).
  •  Akhlak yang baik dapat memperberat timbangan kebajikan.“Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya di mizan kecuali kusnul khuluq/baiknya akhlak.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

4.  Mengapa akhlak menempati kedudukan penting dalam Islam?
Jawab : Karena dalam Islam, akhlak memiliki posisi yang sangat penting, yaitu sebagai salah satu rukun agama Islam. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW. pernah ditanya, “Beragama itu apa?” beliau menjawab, “Berakhlak yang baik” (H.R Muslim). Pentingnya kedudukan akhlak dapat dilihat ketika melihat bahwa salah satu sumber akhlak adalah wahyu. Dan ada juga beberapa sebab yang membuat akhlak memiliki kedudukan yang tinggi, diantaranya;
  • Akhlak adalah tujuan utama diangkatnya Nabi Muhammad menjadi nabi yang diutus kepada manusia. Sebagaimana dalam Q.S Al-Jumuah:2. “Dialah yang mengutus kepada kaum yanng buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka.” 
  • Akhlak merupakan bagian tak terpisahkan dari iman dan akidah. Ketika Rasulullah ditanya: “Siapakah orang beriman yang paling utama imannya?” Maka beliau menjawab, ”yang paling baik akhlaknya.” (HR.At-Tirmidzi,no.1162 dan Abu Dawud,no.4682)
  • Akhlak berkaitan dengan semua bentuk ibadah. Bahwa setiap kali Allah memerintahkan suatu ibadah, Dia juga mengingatkan pada tujuan akhlaknya dan pengaruhnya bagi jiwa dan masyarakat. Contohnya sangat banyak, salah satunya shalat. “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (Q. S Al-Ankabut:45).
5. Kemukakan beberapa pembagian akhlak?
Jawab : a)      Akhlak Mahmudah
            Yakni akhlak terpuji atau akhlak yang baik. Contohnya: pemaaf, sabar, ikhlas, menepati janji, qonaah, jujur, penyayang, pemurah, baik hati, husnudzon dan lain sebagainya. Dimana akhlak mahmudah ini semuanya membawa kebaikan dan tidak merugikan orang lain.
            Karena setiap akhlak terpuji ini telah ada tuntunan dan ajarannya baik dalam Al-Qur’an ataupun Hadits nabi. Dari Imam Malik berkata “setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak islam ialah malu”. Malu merupakan dasar akhlak manusia, karena dengan memiliki rasa malu pada Allah SWT maka akan takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan keji.
b)      Akhlak Madzmumah
            akhlak mazmumah adalah akhlak yang buruk atau tercela, contoh akhlak mazmumah adalah:           
- Ujub dan Takabur.
Ujub adalah mengagumi kemampuan dirinya sendiri. Sedangkan takabur, adalah membanggakan diri karena dirinya merasa lebih dari pada yang lain.
                        - Riya dan Sum’ah
Riya adalah beramal baik dan bermaksud ingin memperoleh pujian orang lain. Sedangkan sum’ah, adalah berbuat atau berkata agar didengar orang lain sehingga namanya jadi terkenal.






Ditulis oleh Fahrizal Sukardi




Tidak ada komentar:

Posting Komentar