Filsafat merupakan sebuah studi yang
membahas segala fenomena yang ada dalam kehidupan dan pemikiran manusia secara
kritis dan skeptis dengan mendalami sebab-sebab terdala, lalu dijabarkan secara
teoritis dan mendasar. Selain pengertian di atas dalam pengertiannya filsafat
dibagi menjadi dua yaitu secara etimologis dan terminologis. Secara etimologis,
istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa
Yunani yaitu philosophia yang terdiri dari kata philien yang berarti cinta dan
sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi bisa kita artikan bahwa filsafat
berarti cinta akan kebijaksanaan atau love of wisdom dalam arti yang
sedalam-dalamnya.
A.
DASAR-DASAR PENGETAHUAN ILMU KALAM
1. Pengalaman
Hal yang pertama dan paling utama yang
mendasarkan pengetahuan adalah pengalaman. Pengalaman adalah keseluruhan
peristiwa yang terjadi dalam diri manusia dalam interaksinya dengan alam,
lingkungan dan kenyataan, termasuk Yang Ilahi. Pengalaman terbagi menjadi dua:
(1) pengalaman primer, yaitu pengalaman langsung akan persentuhan indrawi
dengan benda-benda konkret di luar manusia dan peristiwa yang disaksikan
sendiri; (2) pengalaman sekunder, yaitu pengalaman tak langsung atau reflektif
mengenai pengalaman primer. Sekedar contoh, saya dapat melihat teman-teman
dengan kedua mata saya dan saya dapat mendengar komentar teman-teman dengan
kedua telinga saya. Inilah pengalaman primer. Adapun pengalaman sekunder, saya
sadar akan apa yang saya lihat dengan kedua mata saya dan sadar akan apa yang
saya dengar dengan kedua telinga saya.
Paling tidak, ada tiga ciri pokok
pengalaman manusia. Pertama, pengalaman manusia yang beraneka ragam. Kedua,
pengalaman yang berkaitan dengan objek-objek tertentu di luar diri kita sebagai
subjek. Dan ketiga, pengalaman manusia selalu bertambah seiring dengan
pertambahan usia, kesempatan, dan kedewasaan.
2. Ingatan
Pengetahuan manusia juga didasarkan pada
ingatan sebagai kelanjutan dari pengalaman. Tanpa ingatan, pengalaman indrawi
tidak akan bertumbuh menjadi pengetahuan. Ingatan mengandalkan pengalaman
indrawi sebagai sandaran ataupun rujukan. Kita hanya dapat mengingat apa yang
sebelumnya telah kita alami. Kendati ingatan sering kabur dan tidak tepat,
namun kita dalam kehidupan sehari-hari selalu mendasarkan pengetahuan kita pada
ingatan baik secara teoritis dan praktis. Seandainya ingatan tak dapat kita
andalkan maka kita tak dapat melakukan tugas sehari-hari seperti mengenal
sahabat, pacar, dan lain-lain. Tanpa ingatan, kegiatan penalaran kita menjadi
mustahil. Karena untuk bernalar dan menarik kesimpulan dalam premis-premisnya
kita menggunakan nalar.
Ingatan tidak selalu benar dan karenanya
tidak selalu merupakan bentuk pengetahuan. Agar ingatan dapat dijadikan rujukan
dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya bagi pengetahuan, setidaknya ada
dua syarat yang harus dipenuhi yakni: (1) kesaksian dan (2) konsisten.
3. Minat dan Rasa Ingin Tahu
Tidak semua pengalaman dapat dijadikan
pengetahuan atau tidak semua pengalaman berkembang menjadi pengetahuan. Untuk
berkembang menjadi pengetahuan subjek yang mengalami harus memiliki minat dan
rasa ingin tahu. Minat mengarahkan perhatian ke hal-hal yang dialami dan
dianggap penting untuk diperhatikan. Ini berarti bahwa dalam kegiatan
mengetahui terdapat unsur penilaian. Orang akan memperhatikan dan mengetahui
apa apa yang ia anggap bernilai. Dan rasa ingin tahu mendorong untuk bertanya
dan menyelidiki apa yang dialaminya dan menarik minatnya. Inilah yang
membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
Rasa ingin tahu terkait erat dengan
pengalaman mengagumkan dan mengesankan dengan keheranan yang dialami.
Mengajukan pertanyaan yang tepat mengandaikan bahwa orang tahu di mana ia tahu
dan di mana ia tidak tahu. Maka, mengajukan pertanyaan yang tepat adalah
langkah pertama untuk memperoleh jawaban yang tepat.
4. Pikiran dan Penalaran
Kegiatan pokok pikiran dalam mencari
kebenaran dalam pengetahuan adalah penalaran. Bagi seorang guru, nalar adalah
latihan intelektual untuk meningkatkan akal budi anak didik. Bagi seorang
advokat, nalar adalah cara membela dan menyanggah kesaksian. Bagi ekonom, nalar
adalah sarana membagi sumber daya untuk meningkatkan efisiensi, daya guna, dan
kemakmuran. Sedang, bagi ilmuwan, nalar adalah metode merancang percobaan untuk
memeriksa hipotesis. Nalar dalam kehidupan kita sehari-hari selalu diartikan
rasionalitas.
Penalaran adalah proses penarikan kesimpulan
dari hal-hal yang telah diketahui sebelumnya. Setidaknya ada tiga metode dalam
proses penalaran. Pertama, induksi yakni penalaran yang menarik kesimpulan umum
(universal) dari kasus-kasus tertentu (partikular). Kedua, deduksi yakni
penalaran untuk merumuskan sebuah hipotesis berupa pernyataan umum yang
kemungkinan pernyataannya masih perlu untuk diuji coba.
5. Logika
Logika didefenisikan sebagai pengkajian
untuk berpikir secara shahih. Ada dua cara penarikan kesimpulan, yaitu logika
deduktif dan logika induktif. Logika deduktif adalah terkait dengan
penarikan kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat
individual (khusus).
Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola berpikir yang
dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah
pernyataan (premis mayor dan premis minor) dan sebuah kesimpulan. Logika secara induktif memungkinkan
disusunnya pengetahuan secara sistematis yang mengarah pada
pernyataan-pernyataan yang makin lama makin bersifat fundamental.
6. Bahasa
Di samping logika penalaran juga
mengandaikan bahasa. Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengungkapkan
pengetahuannya. Dalam eksperimen antara bayi dan anak kera yang lahir secara
bersama waktunya, pada awalnya keduanya berkembang hampir sejajar. Tapi seorang
anak mulai bisa berbahasa, daya nalarnya menjadi amat berekembang dan
pengetahuan tentang diri sendiri serta lingkungannya menjadi jauh melampaui
kera seusianya.
B.
PERKEMBANGAN FILSAFAT PADA ZAMAN MODERN
Zaman Modern dikenal juga sebagai masa
Rasionalisme yang ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah.
Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sudah dirintis sejak Zaman
Renaissance. Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan berasal dari
diri manusia sendiri. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan
adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal).
Pada zaman ini filsafat dari berbagai
aliran muncul. Secara garis besar ada tiga paham yang muncul yaitu
rasionalisme, idealisme, dan empirisme. Tapi yang paling mendominasi pada zaman
ini adalah paham rasionalisme.
A. Paham Rasionalisme
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene
Descartes (1596-1650 M). Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia
menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua
pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Descartes
menerapkan pembagian tegas antara realitas pikiran dan realitas yang meluas.
Descartes menerima 3 realitas atau
substansi bawaan, yang sudah ada sejak kita lahir, yaitu :
1. Realitas pikiran (res cogitan) :
Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak dapat
dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil.
2. Realitas perluasan (res extensa,
"extention") atau materi : Materi adalah keluasan, mengambil tempat
dan dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran.
3. Tuhan (sebagai Wujud yang seluruhnya
sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu) Kedua substansi berasal
dari Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada apapun
juga.
B. Paham Empirisme
Pada paham empirisme dinyatakan bahwa
tidak ada sesuatu dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman. Paham
ini bertolak belakang dengan paham rasionalisme. Pengalaman itu dapat yang
bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang
menyangkut pribadi manusia). Menurut paham ini, pengenalan inderawi merupakan
bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna, alasannya karena ada
batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui
persepsi indera kita. Pelopor aliran ini yaitu Francis Bacon dan dikembangkan
oleh David Hume, Thomas Hubbes, John Lock, dan David Hume.
C. Paham Idealisme
Paham ini mengajarkan bahwa hakikat
fisik adalah jiwa. Aliran ini mencoba memadukan pendapat paham Rasionalisme dan
paham Empirisme. Dengan kritisisme Immanuel Kant berpendapat, pengetahuan kita
tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor
yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita.
Menurut Kant, ada dua unsur yang memberi
sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia.
1. Kondisi-kondisi lahirilah ruang dan
waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera
kita. Ruang dan waktu adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik.
Itu materi pengetahuan.
2. Kondisi-kondisi batiniah dalam
manusia mengenai proses-proses yang tunduk kepada hukum kausalitas yang tak
terpatahkan. Ini bentuk pengetahuan.
SOAL-JAWAB
1. Jelaskan pengertian filsafat menurut
Istilah?
Jawab: Secara terminologi sangat
beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan
pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Seorang Plato mengatakan bahwa :
Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang
asli. Sedangkan muridnya Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu (
pengetahuan ) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu
metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
2. Sebutkan dasar-dasar acuan Filsafat Ilmu?
Jawab: Penalaran, logika, rasio,
pengalaman, Intuisi dan Wahyu
3. Apa tujuan mempelajari filsafat ilmu?
Jawab:
a. Memperdalam unsur-unsur pokok ilmu sehingga
secara menyeluruh dapat dipahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
b. Mendorong pada calon ilmuwan untuk konsisten
dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
c. Mempertegas bahwa antara ilmu dan agama tidak ada
pertentangan.
4. Apa manfaat mempelajari filsafat ilmu?
Jawab:
a. Sebagai sarana pengujian penalaran
ilmiah, sehingga menjadi kritis terhadap
kegiatan ilmiah.
b. Merupakan metode untuk merefleksi,
menguji, mengkritisi memberikan asumsi keilmuan.
c. Memberikan pendasaran logis terhadap
metode keilmuan
5. Apa hubungan filsafat ilmu dengan
agama?
Jawab: Filsafat dan agama mempunyai
hubungan yang terkait dan reflesif dengan manusia artinya keduanya tidak ada
alat penggerak dan tenaga utama di dalam diri manusia, yang dikatakan alat dan
penggerak tenaga utama pada diri manusia adalah akal, pikiran, rasa, dan
kenyakinan. Dengan alat ini manusia akan mencapai kebahagiaan bagi dirinya.
Agama dapat menjadi petunjuk, pegangan serta pedoman hidup bagi manusia dalam
menempuh hidupnya dengan harapan penuh keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan.
Manakala manusia menghadapi masalah yang rumit dan berat, maka timbullah
kesadaranyna, bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak berdaya untuk
mengatasinya dan timbulnya kepercayaan dan keyakinan.
Ditulis oleh Rizal Rahman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar